A. Pengertian Agama, Religie Dan Ad – Dien

Kata “agama” adalah kata  populer yang dipakai sehari – hari dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa sansekerta. Disamping kata itu dikenal istilah lain yaitu:  religie berasal dari bahasa latin; religion dari bahasa Inggris dan Ad Dien dari bahasa Semit (Arab).

Menurut Prof.Dr.Harun Nasution, meskipun dari kata tersebut (agama, religie/religion dan Ad Dien) masing – masing mempunyai tekanan arti tersendiri , namun terdapat persamaan (titik temu) pada inti dasarnya yaitu “ikatan”.

Kata agama berasal dari bahasa Sansekerta yang menurut sebahagian pendapat terdiri dari suku kata A dan Gama. A berarti tidak dan Gama berarti pergi, jadi agama berarti tidak pergi, tetap ditempat, diwariasi secara turun temurun (Harun Nasution). Sedang menurut pendapat lain ”agama” akar katanya “Gam” yang apabila diberi awalan a dan akhiran a (menjadi a-gam-a) yang berarti jalan menuju (Sidi Gazalba). Sedangkan pendapat lain, ada yang mengatakan bahwa agama tidak kacau yang mengandung artiagama merupakan tuntunan yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan (chaos), (Moh.Syafaat).

Dari ketiga bahasa tersebut, maka dapat diambil suatu pengertian bahwa Agama adalah suatu tuntunan hidup yang termaktub dalam suatu teks yang berbentuk dalam kitab suci yang bersifat tetap berlaku terus menerus karena diwarisi secara turun temurun (Nasikun, 1984 : 4).

  1. .Kata Religie bersala berasal dari bahasa Latin yang menurut sebagian pendapat yang antara lain:
    1. Prof..Dr. Harun Nasution berpendapat bahwa “Religie” mengandung arti mengumpulkan dan membaca.
    2. Agustine berpendapat bahwa “Religion adalah kebaktian pemisahan antara saral dengan yang profane, kepercayaan terhadap jiwa, kepercayaan terhadap jiwa, kepercayaan terhadap jiwa, kepercayaan terhadap dewa – dewa atau Tuhan, penerimaan atas wahyu yang supernatural, dan pencarian keselamatan”.
    3. Di dalam Ensiklopedi Umum dirumuskan bahwa Religion (pengertian luas) adalah penerimaan atas tata aturan daripada kekuatan – kekuatan yang lebih tinggi daripada manusia, yaitu Tuhan.
    4. Pengertian Ad Dien.
      1. Menurut Prof. K.H.M.Taib Thahir Abd.Muin mengatakan bahwa kata – kata “Ad Dien” itu berasal dari bahasa Arab yang artinya “Adat Kebiasaan, tingkah laku, taat kedaan politik dan pikiran”.
      2. Kalau kita membuka Al-Qur’an, kata – kata Ad Dien banyak ditemukan dengan pengertian yang berbeda – beda, misalnya :

Ad Dien dalam arti qiyamat atau pembalasan (Surah Al-Fathihah : 3,Adzariat: 6,Al-Infitar: 17)

Ad Dien yang menunjukkan penyembahan/Ibadah (Surah Al-A’raf :29, Az Zumar : 2)

Ad Dien yang menunjukkan Undang –Undang/Hukum (Surah Yusuf: 76)

Ad Dien yang menunjukkan patuh/taat (Surah An-Nahl:52)

Ad Dien yang menunjukkan Agama (Surah Al-An’am-ayat 159, Ali Imran :19, Asy Syuara:13 dsb.)

Selain kata–kata Ad Dien dalam Al-Qur’an, terdapat pula kata “Al-Millah” yang mempunyai pengertian yang sama dengan Ad Dien (Surah Al-An’am:61)

Dari arti yang terkandung di atas, maka adalah Dien ialah kumpulan aturan hukum yang harus dipatuhi oleh orang-orang, sehingga dapat menguasai dirinya dan tunduk kepada Tuhan dengan jalan mengamalkan ajaran-ajarannya yang merupakan kewajiban yang jika dipatuhi akan mendapat balasan pahala dan jika ditinggalkan merupakan hutang sehingga akan mendapat siksa.

Berlainan dengan pendapat Prof. Dr. Rasyidi yang menyatakan bahwa amat sukar mengambil kesimpulan dari definisi-definisi tersebut, karena memang konotasi dari tiap-tiap kata saling berlainan. Agama dalam bahasa Latin menonjolkan “tradisi”; religie dalam bahasa Latin menonjolkan ikatan manusia dengan kelompok/dewanya, dan Adalah Dien yang ada dalam Alquran sangat berlainan dengan agama dan religie.

Selanjutnya Prof. Dr. Rasyidi menilai bahwa Prof. Dr. Harun Nasution dalam uraiannya mengikuti cara Emile Durkheim (1858-1917) penganjur adanya anggapan bahwa semua agama itu pada dasarnya sama.

Menurut Prof. Dr. Rasyidi bahwa uraian tersebut sebenarnya harus membedakan antara agama alamiah yang merupakan kebudayaan, dan agama Samawy yang bersumber dari Allah yang semenjak Nabi Adam as., sampai kepada Nabi Muhammad Rasul terakhir. (Rasyidi, 1977:16).

Perbedaan kedua pandangan tersebut di atas disebabkan karena perbedaan metode pendekatan. Prof. Dr. Harun Nasution beranjak dari uraian untuk mencari titik persamaan antara agama, religi dan adalah Dien meskipun ada perbedaannya (akan dijelaskan pada bab selanjutnya), sedangkan Prof. Dr. Rasyidi beranjak dari adanya perbedaan antara agama samawy dan agama alamy yang kedunya terdapat perbedaan yang sangat prinsip.

Di sini pokok masalahnya ialah pada soal apakah semua agama itu sama?, Kalau sama dimana letak persamaanya, dan kalau berbeda dimana letak perbedaanya. Yang jelas tidak benar kalau dikatakan semua agama sama,meskipun ada kemungkinan terdapat unsur – unsur kesamaanya, tetapi ada pula unsur perbeaannya. Jadi dalam hal-hal tertentu ada kesamaanya dan dalam hal-hal lain ada pula perbedaannya.